PROPOSAL
USAHA
PEMBESARAN UDANG WINDU
PROGRAM
KEAHLIAN : TEKNOLOGI BUDIDAYA PERIKANAN
DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK 4 (TINGKAT
II TBP 2)
PT.SURYA CITRA
MONODON
KETUA
= SAFITRI RAMADHANI
SEKERTARIS =
FATIMAH AS ZAHRA
ANGGOTA = MUHAMMAD
SULISTIAWAN
= MUHAMMAD
AKBAR HIDAYATULLAH
=
MUH.FITRAH RAMADHAN
KEMENTRIAN KELAUTAN
DAN PERIKANAN
BADAN RISET DAN SDM
KELAUTAN DAN PERIKANAN
SEKOLAH USAHA
PERIKANAN MENENGAH
(SUPM) NEGERI BONE
2018
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kota Takalar sebagai
salah satu kota yang ada di Sulawesi Selatan yang letaknya 29 km arah selatan
Kota Makassar ibu kota Sulawesi Selatan. Luas Kota Takalar 566,61 km2 terdiri dari 9 kecamatan 100 desa.
Potensi sumber daya perikanan di kota takalar perlu di
kembangkan lagi, salah satunya adalah budidaya udang windu (Penaeus Monodon). Hal ini di sebabkan
budidaya udang windu mempunyai keunggulan yang kompetitif diantaranya harga
jual relatif stabil dan pemeliharaannya relatif sederhana.
Berdasarkan hal tersebut di atas untuk lebih
mengembangkan budidaya ini maka di perlukan upaya secara menyeluruh untuk
meningkatkan produksi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan
petani dan membuka lapangan kerja bagi tenaga kerja produktif.
B. Identitas Perusahaan
Di kota Takalar
terdapat salah satu perusahaan tempat pembudidaya udang windu perusah tersebut
bernamakan PT.CITRA BAKTI MONODON yang beralamatkan di Kota Takalar, Kecamatan
Galesong, Desa Galesong baru.
Kami berharap perusahaan kami
dapat membantu para petani yang ingin bekerja sebagai tehknisi di perusahaan
kami dan menyalurakan ilmu nya dalam bidang usaha budidaya udang windu.
C. Struktur
Organisasi Perusahaan
ADAPUN STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN
(PT.CITRA
BAKTI MONODON)
D.
Visi
–Misi Dan Tujuan
Visi
Menjadi
pengusaha yang konsisten, dan memberikan kualitas udang windu yang jauh lebih
berkualitas.
Misi
a. Budidaya
udang windu dengan gaya petambak modern
b. Selalu
berusaha meneliti dan konsisten dalam merawat udang di tambak
c. Memberi
makan udang dengan gizi dan nutrisi sesuai standar budidaya
d. Menciptakan
lapangan kerja bagi penduduk sekitar
Tujuan
Tujuan dari usaha
budidaya udang windu adalah:
1. Dapat
melakukan usaha pemeliharaan udang windu dengan baik dan memberikan manfaat
yang besar bagi masyarakat sekitar
2. Dapat
menjaga kelangsungan pemeliharaan udang windu dan mengembangkannya.
3. Dapat
membuka lapangan kerja bagi orang lain.
E.
Jenis
Usaha Yang Di Kembangkan
Perusahaan kami yaitu
PT. Citra Bakti Monodon mengembangkan
salah satu usaha
Budidaya pembesaran
udang windu (Penaus Monodon) alasan
mengapa perusahaan kami memilih pembesaran udang windu, karena menurut kami
udang windu memiliki harga pasar yang baik dan relatif stabil.
Bukan cuman itu,
secara ekonomis keberhasilan panen udang windu, ukuran konsumsi memberikan
keuntungan yang tertinggi persatuan waktu di bandingkan komoditas ikan lainya.
PASAR
DAN PEMASARAN
A.
Gambaran
Lingkungan Usaha
Usaha ini
terletak di tempat yang sangat strategi,
dimana boleh di katakana dekat dengan keramaian kota. Disamping itu usaha ini dekat dengan lingkungan petani
tambak. Sehingga petani tambak dapat lebih mudah dalam pemeliharaan induk udang
dalam usaha mereka.
B.
Kondisi
Pasar
Kondisi pasar dapat di bedakan dalam 2
bagian:
1. Pasar
Sasaran
Sasaran dan pemasaran
pada umumnya terfokus buat masyarakat petani tambak dan juga buat perusahaan
yang membutuhkan hasil induk udang windu
yang baik dan berkualitas.
2. Pasar
Peluang
Dalam
pemasaran kami mendapat peluang besar, karena hingga saat ini komoditas udang
windu masih merupakan pilihan utama untuk di budidayakan oleh petambak terutama
petambak sederhana. Hal ini di karenakan udang windu mempunyai harga pasar yang
baik dan relatif stabil.
C.
Rencana
Pemasaran
1)
Penetapan
Harga Produk
Dalam
penetapan harga, kami menyediakan harga untuk pembesaran dengan kualitas
terbaik dan terjangkau oleh masyarakat sekitar. Setelah memperhitungkan dengan
cukup matang akhirnya perusahaan kami menetapkan harga yang lebih murah dari
harga umum di pasaran. Agar masyarakat dapat tertarik dan menjadikan perusahaan
kami tempat pembelian terfavorite mereka.
2)
Strategi
Pemasaran
Strategi yang kami
jalankan dalam pemasaran produk ini yaitu :
1. Penerimaan
pesanan induk udang windu dengan kualitas terbaik.
2. Menjual
dengan harga terbaik,dan pastinya mampu di jangkau oleh masyarakat khususnya
petani tambak.
BAB
III
ASPEK PRODUKSI
A.
Analisa
Lokasi Usaha
Lokasi yang memenuhi syarat untuk
pembesaran udang windu adalah :
1.
Pilih lokasi
usaha pembesaran yang mempunyai air dengan kondisi bersih dan juga jernih
dengan salinitas 15-35 ppt, suhu 24-32oC, ph 7,5-8,5, oksigen
terlarut minimal 3 ppm dan tidak tercemar oleh apapun.
2.
Siapkan
segala peralatan yang dibutuhkan untuk budidaya pembesaran udang windu,
diantaranya seperti salinometer, pH meter, thermometer dan tes kit kualitas
air.
3.
Buat tambak
dengan ukuran 2.000-3.000m2.
4.
Olah dasar
tanah tambak yang akan digunakan untuk budidaya dengan cara dicangkul,
dibalikkan dan dikeringkan. Selanjutnya tambahkan dengan pupuk kandang 250
gram/m2, TSP 5 gram/m2 dan pupuk urea5 gram/m2.
5.
Isi tambak
dengan air payau dengan tinggi sekitar 80 cm.
B.
Fasilitas
dan Peralatan Usaha
1) Fasilitas
a) Pematang
/ tanggul
1. Pematang harus kedap dengan maksimum kebocoran
sebesar 10% dalam tiap minggu.
2.
Tambak
dapat diisi air sampai kedalaman minimal 70cm dari dasar tambak dan maksimal 1 meter.
b)
Dasar
tambak
1.
Kemiringan dasar tambak sekitar 0,2% (selisih
20 cm ke arah pembuangan/outlet).
2.
Caren berjarak 1 meter dari berem tanggul
dengan lebar tergantung dengan kebutuhan. Kedalaman caren 0.2 – 0,5meter. Caren
bertujuan untuk memudahkan pengeringan.
Pintu
air Pintu air berfungsi untuk mengisi air ke dalam petakan tambak dan membuang
air pada saat pemeliharaan dan panen udang.
c)
Pintu
air
Pintu air berfungsi untuk mengisi air ke dalam
petakan tambak dan membuang air pada saat pemeliharaan dan panen udang. Pintu air
dapat terbuat dari kayu atau semen, serta dilengkapi dengan saringan untuk
mencegah masuknya udang dan ikan liar ke dalam tambak pada saat pengisian air.
Pintu air sebaiknya:
1.
Pintu pemasukan dan pengeluaran terpisah.
2. Dimensi
pintu
a. Pintu
air yang banyak digunakan adalah model pintu monik. Ukuran idealnya adalah
lebar mulut pintu 0,8-1 meter, dan dipasang 2 buah tiap petakan 1 Ha, sehingga
mampu membuang air bagian dasar.
b. Pintu
air juga dapat berupa pipa PVC dengan sistem pipa goyang. Jumlah pipa untuk
luas 1 Ha minimal 4 buah dengan diameter pipa 8 inci, sehingga dapat membuang
air dengan cepat. Lakukan pengecekan kebocoran tanah di sekitar pipa dengan
memadatkan tanah disekitar. Jika perlu, lakukan dengan membelah tanggul
sehingga bagian yang dilewati pipa, tanahnya dapat dipadatkan.
d)
Persiapan
dasar tambak
Dasar tambak merupakan tempat udang windu
hidup, mencari makan, sekaligus membuang kotoran. Maka dari itu kebersihan
dasar tambak pada saat persiapan harus menjadi proritas utama. Lumpur dari
dasar tambak yang berupa sisa metabolisme serta plankton yang mati tidak boleh
ditumpuk diatas pematang, karena bila hujan, akan dapat kembali ke tambak dan
memperburuk kondisi tambak. Selain itu bahan organik ini akan meningkatkan
timbulnya gas beracun seperti NH3 atau H2S yang sangat membahayakan dalam
melakukan pembesaran udang windu.
e)
Pengeringan
dasar tambak
Pengeringan tanah dasar tambak bertujuan
untuk meningkatkan oksidasi tanah,sehinga dapat mempercepat penguraian bahan
organik. Proses pengeringan dapat dipercepat dengan pembuatan parit/caren
keliling. Pengeringan tanah dilakukan hingga tanah retak-retak (kadar air
sekitar 20%). Pengeringan tidak boleh dilakukan sampai tanah berdebu karena
proses mineralisasi bahan organik akan berhenti. Pembalikan tanah dilakukan
apabila tanah bagian bawah setebal 10-20 cm masih banyak bahan organik
(ditandai dengan warna hitam dan bau menyengat).
f)
Perbaikan
keasaman (pH) tanah
Derajat keasaman tanah yang baik adalah
6,5-7,5. pH dapat diukur dengan cara menancapkan pH soil tester langsung ke
tanah pada beberapa titik dan diambil nilai rata-ratanya. Bila tanahnya
keras,ambil sampel tanah dasar tambak pada kedalaman 5-15 cm, dicampur dengan
air pH 7 (netral), kemudian ditest dengan alat pH soil tester.
g)
Cara
perbaikan pH
Tambak yang mengandung pirit, ditandai dengan
warna merah, lakukan reklamasi atau pencucian hingga pH tanah mencapai 6,5.
h) Peralatan Yang Digunakan
Alat yang akan
digunakan dalam kegiatan praktik pemeliharaan pembesaran udang windu antara
lain :
1. Ember
plastik
2. Timbangan
3. Jala
atau jaring
4. Refraktometer
5. Thermometer
6. pH meter
7. Kincir air
8. Pompa
9. Generator
set
2) Peralatan
|
Peralatan
|
Harga
|
|
|
Sewa lahan udang windu
|
Rp.
|
2.104.000
|
|
Pengadaan bibit udang windu
|
Rp.
|
1.882.700
|
|
Peralatan pembersih kolam
|
Rp.
|
78.820
|
|
Pembuatan kolam udang windu
|
Rp.
|
2.222.800
|
|
Pompa air
|
Rp.
|
411.500
|
|
Selang dan paralon
|
Rp.
|
91.500
|
|
Drum
|
Rp.
|
220.500
|
|
Jaring
|
Rp.
|
62.000
|
|
Wadah dan jerigen
|
Rp.
|
86.050
|
|
Timba
|
Rp.
|
67.700
|
|
Terpal dan selang
|
Rp.
|
79.500
|
|
Peralatan tambahan yang lainnya
|
Rp.
|
35.400
|
|
Jumlah Investasi
|
Rp.
|
7.342.470
|
C.
Kebutuhan Bahan Baku
Sedangkan untuk bahan yang akan digunakan dalam kegiatan praktik
pemeliharaan pembesaran udang windu antara lain
a. Kapur
b. Desinfektan
c. Pupuk
d. Benih udang
windu atau benur
e. Pakan
f. Probiotik
D. Kebutuhan Tenaga Kerja
Jumlah : 64 orang
|
No.
|
Jabatan
|
Jumlah
|
Gaji Per Bulan
(Rp) |
Jumlah Per Tahun
(Rp) |
|
1.
|
Teknisi
Kepala
|
1
|
2.000.000,00
|
24.000.000,00
|
|
2.
|
Teknisi
|
5
|
7.500.000,00
|
90.000.000,00
|
|
3.
|
Operator
|
50
|
25.000.000,00
|
300.000.000,00
|
|
4.
|
Staf
Administrasi Keuangan
|
1
|
750.000,00
|
9.000.000,00
|
|
5.
|
Straf
HRD
|
1
|
750.000,00
|
9.000.000,00
|
|
6.
|
Satpam
|
6
|
500.000,00
|
6.000.000,00
|
|
Jumlah
|
64
|
36.500.000,00
|
438.000.000,00
|
Keterangan :
1. Orang teknisi mengelola 10 ha,
dengan operator 10 orang.
2. Jumlah tenaga kerja dan gaji hasil
wawancara dengan PT.Surya Citra Monodon
3. Perusahaan Tambak Udang di Kabupaten
Takalar
4. Upah belum termasuk lembur, intensif
dan bonus.
E. Proses Produksi
Berdasarkan identifikasi permasalahan budidaya udang windu , terdapat sedikitnya tiga faktor
penyebab gagal berproduksi antara lain : kualitas induk
yang rendah dan terinfeksi virus white spot (WSSV);
lingkungan tempat budidaya yang terkontaminasi dan fluktuasi lingkungan dalam
tambak yang ekstrim akibat eutrifikasi. Permasalahan ini terjadi pada semua
tingkatan teknologi pembesaran mulai dari teknologi tradisional hingga
intensif. Permasalahn lain yang dapat memperparah kegagalan adalah sistem tata
guna air yang buruk antar petambak sehingga
memudahkan terkontaminasi dan infeksi pada petakan tambak
dalam satu kawasan.
Permintaan negara konsumen
udang saat ini sangat menekankan keamanan pangan (food safety), sehingga
mengharuskan produksi udang bebas dari bahan-bahan yang berbahaya seperti
antibiotik, pestisida dan bahan berbahaya lainya. Oleh karena itu perlu disusun
petunjuk-petunjuk teknis budidaya udang yang mampu memperkecil
resiko kegagalan, ramah
lingkungan dan keamanan pangan dari hasil produksi.
1.
Faktor penghambat dan
pendukung tercapainya sasaran
produksi perikanan produksi
Beberapa aspek yang menyebabkan
hasil budidaya tambak tidak maksimal, salah satu isu strategis adalah terbatasnya pengetahuan
dan teknologi budidaya yang dimiliki bagi para petani tambak itu sendiri. Keterbatasan pengetahuan dan teknologi ini berakibat pada
kesulitan mereka untuk dapat meningkatkan hasil produksi tambak persatuan luas.
Hal ini menjadi cermin bagi petugas perikanan dalam penyebarluasan atau
penyuluhan bagi petani tambak.
Beberapa kemungkinan penyebab
keterbatasan pengetahuan dan teknologi petani tambak adalah :
a) Terbatasnya jumlah dan
kapasitas pengetahuan tenaga pendamping yang dimiliki oleh dinas terkait (dinas perikanan dan kelautan badan
diklat dll) dalam melakukan penyuluhan budidaya di lapangan.
b) Kurangnya atau terputusnya koordinasi dari instansi
terkait dalam melakukan sosialisasi setiap teknologi baru yang
dihasilkan.
c) Secara umum petani tambak mempunyai keengganan untuk
menerima teknologi baru , yang belum dipraktekan atau dilihat secara langsung
oleh petani di daerah tempat usahanya. Hal ini disebabkan karena adanya
ketakutan dan keraguan mengenai tepat tidaknya teknologi tersebut dalam
meningkatkan produktivitas usahanya.
2.
Adapun faktor-faktor yang mendukung produktivitas perikanan budidaya antara
lain:
1) Potensi sumber daya perikanan budidaya cukup besar dengan
aneka jenis ikan dan biota air laut maupun air tawar bernilai ekonomis
(udang,ikan kerapu,rumput laut,ikan patin dll) yang memungkinkan untuk
dibudidayakan.
2) Lahan untuk usaha budidaya yang terbentang
luas di wilayah indonesia.
3) Sumber
daya manusia serta tenaga kerja yang relatif banyak dan murah.
BAB IV
ASPEK
KEUANGAN
A. SUMBER MODAL
Biaya yang diperoleh berasal dari :
a). Modal pribadi
b). Pinjaman bank
c). Sumbangan bersama
B.
Biaya Pra Investasi : Biaya Persiapan dan
Studi Kelayakan
|
Biaya
Operasional
|
||
|
1.
|
Persiapan
dan perbaikan konstruksi
|
1500000
|
|
2.
|
Benih
udang windu (tokolan) 20.000 ekor @ 40
|
800000
|
|
3.
|
Pakan
buatan 300 kg @ 11.000
|
3300000
|
|
4.
|
Pupuk
Organik 3.000 Kg @ 50
|
150000
|
|
5.
|
Pupuk
Anorganik 150 kg @ 5.000
|
750000
|
|
6.
|
Kapur
pertanian (dolomit) 1.500 Kg @ 600
|
900000
|
|
7.
|
Saponin
40 Kg @ Rp. 5.500
|
220000
|
|
8.
|
Biofilter/bioscreen
1 paket
|
375000
|
|
9.
|
Feed
Additve 1 paket
|
500000
|
|
10.
|
Bahan
bakar 1 paket
|
3000000
|
|
11.
|
Perawatan
dan perbaikan sarana budidaya
|
375000
|
|
12.
|
Biaya
lainnya
|
250000
|
|
13.
|
Tenaga
operator 1 orang x 5 bulan @ 500.000
|
2500000
|
|
14.
|
Biaya
panen 1 paket
|
600000
|
|
Jumlah
|
15220000
|
|
|
Biaya
operasional selama 1 tahun
|
30440000
|
|
|
Pemasukan
|
||
|
Penjualan
udang 2×370 kg @Rp. 70.000/kg
|
51800000
|
|
|
Keuntungan
|
17360000
|
|
C.
Biaya Investasi
|
Biaya
Investasi
|
||
|
No
|
Komponen
biaya
|
Jumlah
(Rp)
|
|
1.
|
Sewa
tambak selama 1 tahun
|
1500000
|
|
2.
|
Sewa
peralatan dan sarana tambak 1 paket
|
1000000
|
|
3.
|
Sewa
pompa 2 unit @ 750.000
|
1500000
|
|
Jumlah
|
4000000
|
|
|
D.
Biaya Pemasaran
Bi Biaya Trasportasi meliputi :
1) Pembelian 2
truk = Rp. 300.000.000
2) Bahan bakar bagi fasilitas dan
peralatan = Rp. 300.000.0000
3) Jumlah biaya transportasi =
Rp. 600.000.000
Jadi total keseluruhan biaya yang dibutuhkan dan di pakai
adalah
Rp
701.000.000
|
||
|
|
||
KESIMPULAN
Produksi
udang di tanah air hingga saat ini pasok utamanya masih mengandalkan hasil tangkapan
dari laut, yang kegiataannya terkadang sangat sulit dikendalikan untuk tetap
pada produksi optimum. Kegiatan penangkapan udang di laut sudah cenderung
melebihi jumlah penangkapan yang di perbolehkan sehingga dapat membahayakan
keseimbangan biologis perairan. Beberapa perusahaan penampungan udang (cold
strorage) di indonesia telah mencatat bahwa saat sekarang jumlah produksi hasil
tangkapan udang dari laut jauh menurun dibandingkan dengan tahun-tahun
sebelumnya. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai indikator bahwa populasi udang
di laut telah mengalami penurunan akibat eksploitasi yang berlebihan akibat
intensitas alat tangkap yang di gunakan oleh nelayan. Agar pemenuhan jumlah
ekspor udang dapat terus di pertahankan, maka pemerintah telah mengambil langkah-langkah
diantaranya dengan program peningkatan budidaya untuk ekspor perikanan
(propekan) melalui pengembangan wilayah budidaya (tambak) sesuai dengan
spesifikasi dan karakteristik wilayah masing-masing.
Budidaya
udang di tambak kiranya perlu terus ditingkatkan karena sebenarnya prinsip dari
usaha tersebut adalah mengaplikasikan teknologi yang dapat merubah proses
produksi melalui ukuran ekologis sesuai yang dianjurkan dalam cara budidaya
ikan yang baik (good aqualture practices), agar produksi yang dihasilkan sesuai
dengan kebutuhan dan permintaan pasar saat ini, terutama untuk negara uni
eropa. Penyediaan induk sebagai mata rantai pertama dalam pembudidayaan udang
memegang peranan cukup penting. Bahkan untuk melaksanakan usaha budidaya udang
dengan teknologi tinggi (intensif),semi intensif maupun tradisional,penyediaan
induk secara berkesinambungan sangat diperlukan tidak hanya untuk peningkatan
produksi (kuantitas) tetapi juga menjamin mutu (kualitas) produk sehingga mampu
bersaing.